Berita

Komputer Google Ini Seratus Juta Kali Lebih Cepat Dari Komputer Biasa

Google tampak percaya diri terkait spesifikasi teknis komputer kuantum D-Wave 2X miliknya. Bersama NASA, mereka mengoperasikan D-Wave 2X di Ames Research Center, Mountain View, California, 8 Desember 2015 kemarin.

Komputer Google Ini Seratus Juta Kali Lebih Cepat Dari Komputer Biasa

Komputer kuantum sangat berbeda dengan komputer digital biasa. Pada komputer digital, data diubah menjadi sekumpulan bit digital agar dapat diproses. Setiap bit dapat berada dalam salah satu dari dua keadaan, yakni 0 atau 1. Sementara, komputer kuantum menggunakan bit kuantum untuk memproses data. Komputer kuantum dibuat berdasarkan teori fisika mekanika kuantum, memanfaatkan fenomena superposisi dan keterkaitan partikel. Yang dimaksud dengan fenomena superposisi ialah, masing-masing bit kuantum dapat berada dalam keadaan 0, 1, atau keduanya. Sehingga, komputer kuantum mampu melakukan sejumlah besar proses perhitungan secara bersamaan.

Karena itulah komputer kuantum sangat diharapkan dapat segera digunakan untuk berbagai proses yang membutuhkan daya komputasi super besar, seperti di NASA. Sampai saat ini, D-Wave adalah mesin yang paling mendekati model komputasi kuantum yang diharapkan.

Dalam dua tes yang dilakukan, Google Quantum Artificial Intelligence Lab menyatakan bahwa mesin D-Wave 2X mampu bekerja jauh lebih cepat dari simulasi anil (simulasi komputasi kuantum yang dilakukan di chip komputer tradisional).

Hartmut Neven, Director of Engineering Google, menjelaskan lebih jauh kapabilitas dari D-Wave 2X. Untuk perhitungan yang melibatkan nyaris 1.000 variabel biner, komputer mereka mampu bekerja 100.000.000 kali lebih cepat, baik terhadap simulasi anil oleh prosesor single-core maupun dari Algoritma Quantum Monte Carlo. Algoritma tersebut adalah metode pendekatan sistem kuantum untuk prosesor konvensional.

Hasil ini tentu menjadi sinyal positif untuk pengembangan berbasis komputer D-Wave. Model komputer kuantum ini telah dijual ke Lockheed Martin dan Los Alamos National Laboratory. Angka seratus juta jelas mengesankan. Malahan, teknologi ini mungkin dapat mengguncang penguasa pasar prosesor komputer, Intel, apabila dipasarkan secara luas.

Namun, perjalanan masih panjang. Menurut John Martinis, pemimpin program hardware Google sekaligus profesor Fisika University of California, membangun sebuah komputer kuantum sangatlah sulit. Untuk saat ini, mereka hanya berusaha fokus merakit tanpa memusingkan harga dan ukuran.

Meskipun penerapan teknologi komputasi kuantum tidak bakal terjadi hanya dalam semalam, kita bisa tetap optimis untuk perkembangannya ke depan, mengingat manfaat besar yang dapat ia berikan. Kecepatan komputasi kuantum dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan performa manajemen lalu-lintas udara di bandara, pengoperasian eksplorasi luar angkasa, hingga sistem deteksi dan pengenalan gambar yang canggih seperti di film-film science-fiction.