Berita

Dengan Kaos Kaki, Urin Bisa Diubah Jadi Listrik

Isu energi selalu menjadi kekhawatiran banyak pihak. Pemanfaatan batubara dan minyak bumi untuk dijadikan bahan bakar serta pembangkit listrik dikritik masyarakat modern karena menciptakan polusi besar-besaran. Selain itu, batubara dan minyak bumi adalah sumber daya alam yang terbatas dan dapat habis. Upaya mencari sumber energi alternatif pun mulai gencar dilakukan. Ilmuwan mulai menciptakan sumber energi dari bahan-bahan yang sering kali dipandang sebelah mata sebagai sampah.

Dengan Kaos Kaki, Urin Bisa Diubah Jadi Listrik

Salah satunya adalah ‘urin’, suatu kata yang identik dengan kesan kotor, bahkan menjijikan. Sebagai sisa metabolisme tubuh manusia, urin tidak punya tujuan lain selain untuk dibuang. Namun, sekelompok peneliti dari University of the West England, Inggris, tengah mengembangkan kaos kaki untuk mengubah urin menjadi listrik.

Sebagian dari kita pasti mengernyitkan dahi. Mungkin pertanyaan yang muncul di benak kita adalah, “Kenapa harus kaos kaki? Apa kita harus berjalan di atas genangan urin dengan mengenakan kaos kaki tersebut untuk menciptakan listrik?”

Tidak, tentu saja. Kaos kaki ini tidak secara langsung mengubah urin menjadi listrik. Kaos kaki ini memiliki tabung-tabung silikon lembut yang melapisi tumit hingga pergelangan kaki untuk menampung urin pengguna. Ketika pengguna berjalan, urin akan terpompa melalui selang-selang mini menuju ke bagian pergelangan kaki pada kaos kaki. Disana, disiapkan wadah yang disebut microbial fuels cells (MFC).

MFC berisi bakteri-bakteri yang mampu mengubah nutrien menjadi tenaga listrik. Bakteri-bakteri tersebut akan mencerna urin, dan menghasilkan listrik sebagai salah satu produk reaksi. Hasil percobaan sejauh ini memang belum begitu besar. Listrik yang dihasilkan mampu menjalankan sebuah pemancar sinyal nirkabel untuk mengirimkan pesan setiap dua menit.

Ioannis Ieropoulos, salah satu anggota tim peneliti, mengatakan bahwa teknologi ini ditujukan untuk skenario-skenario bertahan hidup, seperti untuk kebutuhan militer, misi luar angkasa, atau kegiatan outdoor lain seperti berkemah dimana tidak tersedia sumber energi listrik. Meskipun begitu, sumber energi semacam ini terbilang praktis untuk digunakan dalam kegiatan sehari-hari juga, bukan?